Passion vs. Money : Ending The Debate

(A 3 minute read)

Kadang yang seharusnya simple, kita buat ribet, supaya keliatan pinter.

Contohnya, passion. Kalau diulik dari buku-buku yang mempopulerkan istilah ini, passion itu intinya cara keren untuk bilang “this is what I love doing”.

Premisnya simple : Kalau lo suka, lo akan semangat untuk ngulik dan ngasah apa yang lo suka. Ujungnya lo akan lebih cepet jago, atau bahkan lebih jago dari rata-rata. Passionate, ga lantas mengabaikan skill ya.

Kenapa para penulis buku* passion berhipotesa seperti ini?

Akar masalah-nya juga simple : Sistem edukasi cenderung fokus memperbaiki kelemahan, daripada mengaungkan kekuatan kita. Inget dulu les Mafia karena nilai kita jelek? Uda dilesin berbulan-bulan, ujungnya nilai 60, cuma naik jadi 70. What if, waktu dan tenaga itu dipake buat ngembangin kekuatan kita (yang biasanya juga kita suka)?

Kenapa juga sik, passion jadi diartikan gini: ngerjain apa yang kita suka, tanpa peduli dapet duit apa enggak?

Yah gitulah manusia. Senengnya, mempolarisasi segala sesuatu. Gua juga kadang terjebak dalam bias seperti ini. Seolah-olah kalau fokus cari duit berarti harus mengorbankan passion, dan jadi ngerjain apa yang kita gak suka. Padahal kan pilihannya belum tentu ‘atau’. Passion atau duit? Bisa aja passion dan duit. Lo gak harus milih salah satu, spektrumnya lebarrrrr.

My first few jobs, basically gua 80% cari duit untuk balik modal biaya kuliah. Tapi apakah lantas semua kerjaan gua ambil? Apakah lantas gua ga enjoy sama sekali? Ya engga juga.

  • Gua ngajar les anak-anak tajir, karena duitnya ada. Plus, gua juga seneng sharing. Bisa gak ngerjain yang lain yang gua lebih suka? Bisa aja, kalau ada kesempatannya. Tapi waktu itu pintu yang terbuka ya ini.
  • Gua kerja jadi sales alat berat, karena duitnya lumayan. Plus, gua juga enjoy ketemu orang, presentasi, bisa ketemu bos-bos dan belajar banyak dari mereka. Apakah 100% dari kerjaan ini gua suka? Ya kagak lah. There’s no such thing as a perfect job (unless you create one for yourself). Gua ga suka ngurusin admin, kontrak, invoicing. Gua ga suka dealing sama bagian bengkel, karena pasti ada aja masalah di alat berat yg gua jual. Gua ga suka panas-panasan di lapangan, mesti ngetes bulldozer bau solar, keringetan, ga makan siang, jorok pula sepatu belecetan tanah, simply karena customer cuma bisa dateng waktu break lunch. Tapi ya tetep gua kerjain, karena masih ada bagian yang gua suka and it’s making good decent money.

Dalam perjalanan, akhirnya gua bisa perlahan-lahan create my own ‘perfect’ job. Setelah 13 tahun berproses, gua bersyukur bisa menambah porsi yang gua suka / enjoy dari pekerjaan gua. Dulunya 20%, sekarang 80%. Tapi tetep aja akan ada bagian yang ga perfect. Ada bagian yang gua kurang suka, and that’s okay. Gua juga ga berusaha menghilangkan itu. Mungkin makin dewasa, gua juga sadar, kesulitan dihadirkan supaya kita ga terbiasa dalam comfort zone saja. Mungkin 20% yang gua kurang suka itu lah yang gua butuhkan untuk bertumbuh.

Jadi… Bisa gak gua bilang, gua ngerjain passion gua waktu gua jadi guru les?

Bisa gak gua bilang, gua ngerjain passion gua waktu gua jadi sales alat berat?

Bisa gak gua bilang, gua ngerjain passion gua waktu gua jadi pengusaha?

Definitely. Kadarnya aja yang berbeda. And that’s okay.

Ada seasonnya, gua memprioritaskan uangnya dulu, ada seasonnya, gua bisa melakukan keduanya dengan lebih seimbang. Tapi keseimbangan buat lo dan gua akan beda juga kan?

You can do your passion and earn good money too.

Just find your own balance between the two.

You do you.

Smile on shine on,

@fellexandro

__

*PS: Gua udah baca buku-buku berikut sebagai reference gua menulis artikel ini : Now Discover Your Strength, Your Job is Not Your Career, The Element, Design Your Life, Strengthsfinder 2.0, Mindset.

4 comments

  1. Bener banget ko, thanks for sharing.
    Mungkin sekarang bukan kerjaan yang aku suka tapi nanti aku bisa kerjakan apa yang ak suka dari uang yang udah aku kumpulin. passion & money bisa berjalan bareng, tapi ada seasonnya masing2.

    Reply

  2. Setuju banget ko dengan kata-kata “kesulitan dihadirkan supaya kita ga terbiasa dalam comfort zone”
    Ngerasa banget keluar dari comfort zone itu ga mudah, once berhasil keluar ternyata banyak hal sulit lain yang kita temuin yang mana ga pernah kita temuin waktu lagi ada diposisi comfort zone. Dari sekian banyak kesulitan itu kita belajar untuk tumbuh, berkembang dan lebih kuat, ketemu proses-proses dan perjalanan hidup lain yang menjadikan kita “one steap ahead” daripada diri kita dimasa/posisi sebelumnya.

    Reply

  3. Penggunaan kata ‘passion’ udah benar-benar overrated banget beberapa tahun belakangan ini, bahkan gw juga salah satunya yang pernah kejebak dengan ini.

    Dari pengalaman gw pribadi, resign dari kerjaan dengan alibi bukan passion gw.

    Escaped from 8-5, sekarang gw masuk ke zona lebih yahuttt ke 6-8 hahahaha. Karena kerja bareng bokap, dan bakal nerusin usaha keluarga, toko kelontong di pedalaman hutan Kalbar. Tapi uangnya deras, hehehe. Selama pandemi covid ini pun masih stabil.

    Awal tahun ini sebenarnya ada kepikiran buat cabut karena gw berargumen dengan pemikiran sendiri soal passion dan ga bisa dipungkiri kisah-kisah dari konten creator yang gw idamin juga sering bombardir cerita mereka soal passion.

    Setelah gw jalanin, dan juga thanks to Ikigai (baca bukunya Ken Mogi), dapat pencerahan soal kerjaan + uang.

    Masih banyak hal yang perlu di refleksiin dengan diri sendiri.

    Thanks ko for bringing this topic up.

    Reply

  4. Asupan motivasi buat gue sih baca hal-hal yang emang real tanpa judge ampe deep dan ngasih pencerahan + pukpum di pundak lewat kata dan gak lebay. Gue overall setuju sih apa yang dibilang Fellex. Ada masanya lu tuh harus mengalah dulu ngikutin hal yang lu suka dengan hal yang lu butuhin. Nanti ada masanya mereka beriringan bahkan ada masanya nanti lu lebih banyak ngelakuin hal yang lu suka. Tinggal kita nikmatin waktu sekarang, sabarin, nanti ada yang jauh lebih menyenangkan di waktu berikutnya.

    Reply

Tell me what you think ;)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.